Sabtu, 09 Juni 2012

PKP penerapan pendekatan Bahasa secara utuh dapat meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar siswa kelas V SDN 009 Kecamatan Muara jawa,Kabupaten Kutai kartanegara,dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri


               BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk hidup yang berinteraksi dengan manusia lainya.Interaksi terasa semakin penting pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui.Kegiatan ini membutuhkan alat,sarana,media yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana, dan media.
Pada mulanya manusia hanya mengenal bahasa lisan yaitu bahasa yang hanya keluar dari lidah mereka berupa bunyi yang digunakan sebagai alat komunikasi.Seiring berkembangnya peradaban orang mulai mengenal juga bahasa yang berupa media tulisan.Sejak dikenalnya tulisan itulah manusia tidak lagi hanya menggunakan bahasa lisan tetapi juga bahasa tulis.
Bahasa sebagai alat komunikasi memilki 3 fungsi yaitu : a) Fungsi Informasi,b) Fungsi Ekspresi c) Fungsi Adaptasi integrasi.Sesuai dengan fungsi itulah setiap orang bisa memberkan informasi,mengungkapkan ekspresi diri,serta beradaptasi dengan menggunakan media lisan dan tulisan.Kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa lisan dan tulis perlu pembelajaran agar bisa berfungsi optimal.Pembelajaran yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa.Oleh karena itu pendidikan sangat berperan penting dalam proses pembelajaran tersebut.
Pembelajaran dalam berbahasa harus dibiasakan sejak dini,Sehingga seiring perkembanganya kemampuan berbahasanya pun ikut berkembang.Dalam proses pembelajaran,guru harus memiliki strategi mengajar agar siswa dapat belajar secara aktif mengena pada tujuan yang diharapkan.Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah memilih pendekatan pembelajaran yang tepat. Pendekatan pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri adalah pendekatan Bahasa secara utuh .


Pendekatan Bahasa secara utuh dinilai tepat dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan berdasarkan gambar seri karena mengajarkan bahasa secara utuh baik mendengar,berbicara,membaca,menulis.Dengan dipadukanya keempat kemampuan pokok berbahasa itu diharapkan siswa sudah memiliki kemampuan berfikir secara luas sehingga tidak kesulitan setiap menulis karangan.Sebab saat ini kebanyakan siswa pasti mengalami kesulitan setiap diberi tugas menulis karangan.Hal itu karena minimnya perbendaharaan kata akibatnya kurangnya siswa mendengar,membaca dan menulis.
Dengan adanya pendekatan Bahasa secara utuh ini diharapkan kemampuan siswa dalam menulis karangan benar – benar mengalami kemajuan.
B. Rumusan Masalah
          Dengan mengacu pada latar belakang masalah yang telah diuraikan di depan,berikut ini dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Apakah penerapan pendekatan Bahasa secara utuh dapat meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar siswa kelas V SDN 009 Kecamatan Muara jawa,Kabupaten Kutai kartanegara,dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri ?
2.    Apakah kesulitan siswa kelas V SDN 009 Kecamatan Muara jawa, Kabupaten Kutai kartanegara,dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri bisa teratasi dengan pendekatan Bahasa secara utuh ini ?
C. Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran
          Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka perbaikan ini bertujuan untuk:
1.    Meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar siswa Kelas V SDN 009 Kecamatan Muara jawa Kabupaten Kutai kartanegara,khususnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia materi menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri.
2.    Mengatasi kesulitan siswa dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri.
D. Manfaat penelitian perbaikan pembelajaran
    Sesuai dengan tujuan perbaikan diatas diharapkan perbaikan ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, antara lain :
1.    Bagi siswa dapat meningkatkan kemampuanya dalam menuis karangan berdasarkan gambar seri.
2.    Sebagai pelaksana perbaikan mampu mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan berfikir kritis guna melatih kemampuan memahami dan menganalisis masalah – masalah dalam pembelajaran.
3.    Memberikan masukan kepada semua guru kelas v sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.      Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran berbeda dari pengajaran yang merupakakan terjemahan dari teaching,Pembelajaran merupakan terjemahan dari instructional proses memberi rangsangan kepada siswa supaya belajar pada proses pengajaran biasanya ada guru yang mengajar siswa,sedangkan dalam proses pembelajaran tidak selalu demikian.Sesekali siswa harus belajar sendiri dari media belajar atau dari lingkungan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.Tugas guru mengatur supaya terjadi interaksi antara siswa dengan media belajar atau lingkungan belajar itu.Jadi pembelajaran bahasa adalah proses memberi rangsangan belajar berbahasa kepada siswa dalam upaya siswa mencapai kemampuan berbahasa.
Kemampuan berbahasa dalam arti luas adalah kemampuan mengorganisasi pemikiran,keinginan,ide,atau pendapat atau gagasan dalam bahasa lisan maupun tulis.Secara umum,kemampuan ini tergantung pada frekuensi dan kualitas materi dengar,bicara,baca,tulis yang dilakukan oleh seseorang dalam keseharianya. Semakin kerap seseorang mendengar,berbicara,membaca,menulis dan semakin berkualitasnya materi yang didengar,dibicarakan,dibaca dan ditulisnya maka semakin komunikatiflah kalimat – kalimat yang dituturkanya.Dengan demikian, kemampuan berbahasa orang tersebut semakin baik.
Itulah sebabnya diperlukan upaya agar seseorang kemampuan kebahasaanya sehingga fungsi bahasa dpat diperoleh secara maksimal.Upaya ini dapat dilakukan dengan cara menggiatkan latihan – latihan kebahasaan.Semakin awal upaya ini dilakukan maka semakin baik hasilnya.Latihan ini sebaiknya dilakukan sejak anak duduk di sekolah dasar.Usia sekolah dasar merupakan masa yang tepat untuk melatih kegiatan berbahasa.
Dalam kurikulum berbasis kompetensi penekanan mata pelajaran bahasa Indonesia pada aspek peingakatan kemampuan membaca dan meulis permulaan. Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan tematik untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna.Pengelolaan waktunya diserahkan kesekolah masing – masing.
1.        Ketentuan untuk kelas 3, 4, 5, dan 6
Dalam kurikulum berbasis kompetensi penekanan mata pelajaran bahasa Indonesia pada aspek menigkatkan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulis.Mulai kelas 3 menggunakan pendekatan mata pelajaran tunggal sesuai dengan jenis mata pelajaran dalam struktur kurikulum.
2.        Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia
Hasil belajar Bahasa Indonesia dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah :
a.         Mendengarkan
Siswa mendengarkan dan memberi tanggapan secara kritis dengan pemahaman dan kepekaan terhadap gagasan,pendapat,dan perasaan orang lain dalam berbagai bentuk wacana lisan dan informasi yang dilihat
b.         Berbicara
Siswa berbicara secara aktif untuk mengungkapkan gagasan,pendapat dan perasaan,dalam berbagi bentuk dan cara kepada berbagai saasaran sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraaan.
c.         Membaca
Siswa membaca beragam teks,menunjukkan pemahaman secara kritis terhadap gagasan pendapat dan perasaan baik tersurat maupun tersirat memanfaaatkanya untuk berbagai tujuan serta gemar membaca berbagai jenis teks.
d.        Menulis
Siswa menulis berbagai jenis karangan untuk berbagai tujuan dan pembaca dengan memperhatiklan kosakata,ejaan,tanda baca,strukrtur kalimat,dan paragraph secara efektif.
e.         Pemahaman penggunaan
Siswa memahami penggunaan bahasa secara beragam bergantung pada tujuan dan konteks,serta menguasai komonen – komponen kebahasaan untuk mendukung penggunaan bahasa Indonesia.Siswa mencintai, menghargai,dan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan memahami bahwa bahasa Indonesia mempunyai peran penting terhadap diri dan lingkunganya.
f.          Apresiasi sastra
Siswa mampu mengapresiasi dan berekspresi sastra dalam berbagai jenis dan bentuk.
Tujuan pembelajaran ini dapat diupayakan dengan menggunakan langkah langkah pembelajaran bermakan yaitu berikut ini:
1.      Pemanasan apersepsi
2.      Eksplorasi
3.      Konsolidasi pembelajaran
4.      Pembentukan sikap dan perilaku
5.      Penilaian formatif
B.       Menulis
 Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.Pada awal sejarahnya,menulis dilakukan dengan menggunakan gambar,contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno.Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu.Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat tanda-tanda tersebut mewakili bunyi,berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.
Menulis adalah menyampaikan ide atau gagasan dan pesan dengan menggunakan lambang grafik (tulisan).Tulisan adalah suatu system komunikasi manusia yang menggunakan tanda-tanda yang dapat dibaca atau dilihat dengan nyata.Tarigan (dalam Agus Suriamiaharja,1996 : 1),menyatakan bahwa : Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipakai oleh seseorang,sehinga orang lain dapat membaca lambang – lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut.Sedangkan Robert Lodo (dalam Suriamiaharja,1996 : 1),mengatakan bahwa : “Menulis adalah menempatkan simbol – simbol grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang,kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol – simbol grafiknya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang – lambang grafik untuk menyampaikan ide atau gagasan yang dapat dimengerti oleh orang lain .
C. Karangan
                   Merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi,deskripsi,eksposisi,argumentasi dan persuasi.
                    
1.        Macam – Macam Karangan di SD
Macam – macam karangan yang dapat diajarkan di SD dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Menurut Tingkatan
1.      Karangan permulaan ( Kelas I dan II )
2.      Karangan sebenarnya ( Karangan lanjutan ) di kelas – kelas berikutnya.
b. Menurut Isi / Bentuk
1.       Karangan Varslag ( Laporan ) Umumnya diberikan di kelas – kelas rendah Misalnya : Menceritakan kembali ( secara tertulis ) apa – apa yang dialami dalam pengajaran lingkungan.
2.       Karangan Fantasi, Mengeluarkan isi jiwa sendiri ( Ekspresi jiwa ), Misalnya : “Cita – citaku setelah tamat SD”. “Seandainya aku jadi raja”.
3.       Karangan Reproduksi,Umumnya bersipat menceritakan / menguraikan suatau perkataan yang telah di pelajari atau di pahami, seperti mengenal ilmu – ilmu bumi, ilmu hayat,atau menulis dengan kata – kata sendiri apa yang telah di baca dll.
4.       Karangan Argumentasi,Karangan berdasarkan alasan tertentu. Siswa dibiasakan menyatakan pendapat ataupun pikiranya berdasarkan alas an yang tepat.
c. Menurut Susunanya
1.        Karangan Terikat
2.        Karangan Bebas
3.        Karangan setengah bebes terikat (Ngalim Purwanto dan Djeinah Alim, 1997 : 59)
2.      Susunan Karangan
Susunan karangan atau wacana sebagaimana dikemukakan oleh Tarigan dan Sulistyaningsih (1996 : 362) adalah : Wacana dibentuk oleh paragraf – paragraf,sedangkan paragraf dibentuk oleh kalimat – kalimat. Kalimat – kalimat yang membentuk palagraf itu haruslah merangkai, kalimat yang satu dengan kalimat berikutnya harus berkaitan begitu seterusnya. Sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh atau membentuk sebuah gagasan.Selanjutnya paragraf dengan paragraf pun merangkai secara utuh membentuk sebuah wacana yang memiliki tema yang utuh “.

a. Kata
Setiap gagasan pikiran atau perasaan dituliskan dalam kata – kata. Kata adalah unsur kata yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat di gunakan dalam bahasa.Untuk dapat menyampaikan gagasan,pikiran dan perasaan dalam tulisan karangan.Seorang perlu memiliki pembendaharaan kata yang memadai dan pemilihan kata yang tepat. “Dalam memilih kata itu harus diberikan dua persyaratan pokok yaitu (1) Ketepatan (2) Kesesuaian” (Suriamiharja et – al, 1996 : 25). Persyaratan ketepatan yaitu kata – kata yang dipilih harus secara tepat mengungkapkan apa yang ingin di ungkapkan sehingga pembaca juga dapat menafsirkan kata – kata tersebut tepat seperti maksud penulis persyaratan kedua yaitu kesesuaian.Hal ini menyangkut kecocokan antara kata – kata yang dipakai dengan kesempatan / situasi dengan keadaan pembaca.Apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang dipergunakan tidak merupakan suasana atau tidak menyinggung perasaan orang yang hadir.
b. Kalimat
Kalimat terbentuk dari gabungan anak kalimat,sedangkan anak kalimat adalah gabungan dari ungkapan atau frase,dan ungkapan itu sendiri merupakan rangkaina dari kata – kata .Kalimat yang dipergunakan dalam karangan berupa kalimat yang efektif yaitu kalimat yang benar dan jelas sehingga mudah dipahami orang lain.Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pandangan atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembaca.Suryamiharja et-al (1996 : 38),Mangemukakan bahwa : Kalimat efektif dalam bahasa tulis, haruslah memiliki unsur – unsur :
o   Dapat mewakili gagasan penulis
o   Sanggup menciptakan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca seperti yang dipikirkan penulis.
c. Paragraf
Paragraf adalah satu kesatuan pikiran,suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari pada kalimat : paragraf merupakan kumpulan kalimat yang berkaitan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan, Berkaitan dengan paragraf akhadiah,dkk (dalam Agus Suryamiharja,1996 : 46), Menjelaskan bahwa “dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sapai kalimat penutup”.
Fungsi dari paragraf dalam karangan adalah :
1. Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide keseluruhan karangan.
2. Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok karangan. (Tarigan, 1996 : 48).
Menurut Suriamuharja (1996 : 48) “Paragraf baik dan efektif harus memenuhi tiga parsyaratan yaitu :
1.      Kohesi (Kesatuan)
      Keraf (dalam Suriamiharja 1996 : 48) mengemukakan bahwa “yang dimaksud dengan kohesi / kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang membina palagraf secara bersama – sama menyatakan satu hal,satu tema tertentu”.
2.      Koherensi (Kepaduan)
Keraf (Suriamiharja 1996 : 48) mengemukakan bahwa “yang dimaksud dengan koherensi / keterpaduan dalam paragraf adalah kekompakan hubungan antar sebuah kalimat denngan kalimat yang lain yang membentuk paragraf itu”.
3.      Pengembangan / Kelengkapan paragraf
Keraf (dalam Suryamiharja 1966 : 50),mengemukakan bahwa “pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian dari gagasan – gagasan yang membina peragraf itu”,Suatu paragraf dikatakan berkembang atau lengkap jika kalimat topik atau kalimat utama dikembangkan atau dijelaskan dengan cara menjabarkannya dalam bentuk – bentuk kongkrit,dapat dengan cara pemaparan dan pemberian contoh, penganalisaan dan nilai – nilai.
D.      Gambar seri
Media Cerita Gambar Seri adalah cerita atau daya upaya dalam menyusun atau menulis karangan dangan menerjemahkan isi pesan visual ( gambar seri ) kedalam wujud atau bentuk bahasa lain. Berkaitan dengan penggunaan media gambar,Purwanto dan Alim (1997 : 63),mengemukakan bahwa “Penggunaan media gambar untuk melatih anak menentukan pokok pikiran yang mungkin akan menjadi karangan – karangan” juga Tarigan (1997 : 210) mengemukakan bahwa “Mengarang melalui media gambar seri berarti melatih dan mempertajam daya imajinasi siswa”.Dari uraian di atas,dapat ditarik kesimpulan bahwa cerita gambar seri adalah cara atau daya upaya dalam menyusun atau menulis suatu tulisan atau karangan dengan menerjemahkan isi pesan visual (gambar seri) ke dalam bentuk tulisan.
Gambar yang baik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar adalah yang memiliki ciri – ciri sebagaimana dikemukakan Sudirman et-al (1991 : 219), yaitu :
1.      Dapat menyampaikan pesan atau ide tertentu.
2.      Memberi kesan kuat dan menarik perhatian.
3.      Merangsang orang yang melihat untuk ingin mengungkapkan tentang obyek – obyek dalam gambar.
4.      Berani dan dinamis.
5.      Ilustrasi tidak terlalu banyak,tetapi menarik dan mudah dipahami.
E.      Pendekatan Bahasa secara utuh
a.  Pengertian Bahasa Secara Utuh  
Dengan mengajarkan bahasa secara terpisah – pisah,sangat sulit memotivasi belajar siswa belajar bahasa karena siswa melihat apa yang dipelajarinya tidak ada hubunganya dengan kehidupan mereka.Oleh karena itulah digunakan pendekatan Bahasa secara utuh (whole language) untuk memberikan variasi pembelajaran pada siswa.
Pendekatan Bahasa secara utuh (whole language) adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan bahasa secara utuh,tidak terpisah – pisah antara mendengar/menyimak,berbicara,dan menulis.( Edelsky,1991; Frose,1990;Goodman,1986;Weaven,1992 ).Pendekatan Whole language didasari oleh faham contruksivisme yang menyatakan bahwa anak/siswa membentuk sendiri pengetahuanya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh ( whole ) dan terpadu ( Integrated ) ( Robert,1996).Bahasa secara utuh (whole language) adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa,tentang pembelajaran dan tentang orang – orang yang terlibat dalam pembelajaran.Dalam hal ini yang dimaksud adalah siswa dan guru.Whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa ( menyimak,berbicara,membaca,menulis ) diajarkan secara terpadu
Untuk menerapkan Bahasa secara utuh (whole language)  kita harus mengetahui komponen – komponen yang terdapat dalam whole language. Menurut Routman ( 1991 ) dan Frose ( 1991 ) ada delapan komponen pendekatan whole language yaitu :
1.         Reading aloud
Yaitu kegiatan membaca yang dilakukan guru untuk siswanya.Guru dapat memilih cerita yang mampu menarik siswa untuk aktif mendengarkan cerita tersebut.Kegiatan ini bisa dilakukan setiap jam pelajaran Bahasa Indonesia dengan waktu yang singkat saja kurang lebih 10 menit.
2.         Jurnal writing
Yaitu kegiatan menulis yang dilakukan siswa terhadap kejadian yang dialaminya.Disinilah siswa belajar mengungkapkan perasaanya menceritakan kejadian di sekitarnya,membeberkan hasil kerjanya dan menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan.
Kegiatan ini juga harus dilakukan setiap jam pelajaran Bahasa Indonesia dengan waktu yang singkat saja kurang lebih 10 menit saja.Kegiatan ini memiliki banyak manfaat antara lain :
a.       Meningkatkan kemampuan menulis
     Dengan menulis jurnal siswa akan terbiasa mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan yang kemudian membantunya untuk mengembangkan kemampuan menulisnya.
b.      Meningkatkan kemampuan membaca
Siswa secara spontan akan membaca hasil tulisanya setiap ia menulis jurnal.Dengan cara ini,tanpa disadari siswa melatih kemampuanya membacanya sehingga dengan menulis jurnal siswa tersebut juga meningkatkan kemampuan membacanya.
c.       Menimbulkan keberanian
Menulis jurnal bukanlah kegiatan yang harus dinilai maka siswa tidak perlu takut untuk berbuat salah.Kesempatan ini dapat digunakan sebagai sarana untuk bereksploitasi.
d.      Memberi kesempatan memberi refleksi
Melalui jurnal siswa bisa merefleksi apa yang telah dipelajarinya atau dilakukanya.
e.       Validasi pengalaman dan perasaan pribadi
Kejadian apa saja yang dialami oleh siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah dapat diungkapkan dalam jurnal dengan menghargai apa yang ditulis siwa akan membuat siswa merasa dihargai.
f.       Memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis
Terutama untuk siswa kelas tinggi,jurnal adalah sarana untuk mengungkapkan perasaan pribadi.Jurnal ini sering disebut diary atau buku harian.Untuk jurnal jenis ini siswa boleh memilih apakah guru boleh membaca jurnalnya atau tidak.
g.      Meningkatkan kemampuan berfikir
Dengan meminta siswa menulis jurnal berarti melatih mereka melakukan proses berfikir,mereka berusaha mengingat kembali, memilih kejadian mana yang akan diceritakan dan menyusun informasi yang dimiliki menjadi cerita yang dapat dipahami pembaca.Dengan membaca jurnal,guru menfgetahui kejadian atau materi mana yang berkesan dan dipahami siswa dan mana bagian yang membuatnya bingung.
h.      Meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis
Melalui jurnal siswa belajar tata carta menulis,seperti penggunaan huruf besar, tanda baca dan struktur kalimat b ( tata bahasa ). Siswa juga mulai menulis dengan menggunakan topik, judul, halaman dan sub topik.Mereka juga menggunakan bentuk tulisan yang berbeda, seperti dialog ( percakapan ) dan cerita bersambung.Semua ini diajarkan secara formal.
i.        Menjadi alat evaluasi
Siswa dapat melihat kembali jurnal yang ditulisnya dan menilai sendiri kemampuan menulisnya.Mereka dapat melihat komentar atau respons guru atas kemajuanya.Guru dapat menggunakan jurnal sebagai sarana untuk menilai kemampuan berbahasa anak, disamping juga penguasaan materi dan gaya penulisan.
                                       i.          Menjadi dokumen tertulis
Dapat digunakan sebagai dokumen tertulis mengenai perkembangan hidup atau pribadinya.Setelah mereka dewasa, mereka dapat melihat kembali hal – hal apa yang pernah mereka anggap penting waktu dulu.
3.         Substained Silent Reading
Yaitu membaca dalam hati yang dilakukan setiap siswa.Dengan kegiatan ini akan memunculkan semangat siswa dalam belajar bahasa.Dengan kegiatan ini juga diharapkan perbendaharaan kata yang dimilki siswa juga bertambah dari hasil membacanya tersebut.
4.      Share Reading
Yaitu kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa dimana setiap orang mempunyai buku yang dibacanya.Manfaat kegiatan ini adalah :
o   Melatih kemampuan siswa dalam membaca
o   Mengaktifkan siswa yang belum aktif dalam pembelajaran
o   Menumbuhkan kebersamaan antara guru dan siswa,siswa dengan siswa
5.      Guided Reading
Yaitu membaca terbimbing guru menjadi pengamat dan fasilitator,guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis tentang apa yang dibacanya.
Manfaat kegiatan ini adalah:
o   Membiasakan siswa berfikir kritis
o   Melatih kemampuan membaca siswa
o   Memudahkan siswa dalam erbahasa
6.      Guide Writing
Yaitu menulis terbimbing peran guru dalam kegiatan ini sebagai fasilitator,membantu siswa menentukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya dengan jelas, sistematis dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur,sebagai pemberi saran bukan pemberi petunjuk. Dalam kegiatan ini proses writing,seperti memilih topic,membuat draft, memperbaiki dan mengedit dilakukan sendiri oleh siswa.
7.      Independent Reading
Yaitu membaca bebas,dimana siswa berkesempatan menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya.Guru berperan sebagai pengamat fasilitator dan pemberi respons
8.      Independent Writing
Yaitu menulis bebas bertujuan meningkatkan kemampuan menulis bebas.Siswa mempunyai kesempatan untuk menulis tanpa ada intervensi dari guru.
            Itulah kedelapan komponen pendekatan whole language untuk menerapkanya kita harus memiliki strategi - strategi khusus yang disesuaikan dengan keadaan.Maka apabila kita bisa menerapkan semua komponen itu dalam setiap pembelajara maka kita telah berhasil menerapkan pendekatan whole language
b.      Ciri – ciri kelas whole language
o   Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan. Barang – barang  tersebut tergantung di dinding,pintu, dan furniture.Label yang dibuat siswa ditempel pada meja, cabinet,dan sudut belajar.Salah satu sudut kelas dibuat menjadi perpustakan yang dilengkapi berbagai jenis buku ( tidak hanya buku teks ) majalah,koran, kamus,buku petunjuk,dan berbagai macam barang cetak lainya.
o   Siswa belajar melalui model atau contoh
o   Siswa belajar dan bekerja sesuai kemampuanya
o   Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran.
o   Siswa terlibat secara aktif terlibat dalam pembelajaran bermakna. Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan yang membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan individual.
c.       Penilaian Bahasa secara utuh
Di dalam kelas Bahasa secara utuh guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan siswa.Secara informal,selama pembelajaran berlangsung,guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan siswa berdiskusi baik dalam kelompok ataupun diskusi kelas.ketika siswa bercakap – cakap dengan temanya atau dengan guru,penilaian juga dilakukan.
            Penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi.Walaupun guru tidak terlihat membawa – bawa buku nilai namun guru menggunakan alat penilaian seperti format obsesrvasi dan catatan anecdote.Dengan kata lain dalam kelas whole language guru memberikan penilaian pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung..Selain penilaian informal,penilaian juga dilakukan dengan ,menggunakan portofolio.Portofolio adalah kumpulan hasil belajar siswa selama kegiatan pembelajaran.Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik

BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.      Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 009 Kecamatan Muara  jawa jumlah siswa kelas V SDN 009 adalah 18 siswa.Seperti halnya kebanyakan anak usia SD,siswa di SD kami juga berasal dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda karakteristiknya dimana faktor itu juga sangat menentukan karakteristik anak.Siswa SD kami memiliki kemampuan yang berbeda – beda dari 18 siswa sekitar 9 siswa memiliki kemampuan di bawah rata – rata yang menjadi tanggung jawab guru untuk meningkatkan dan mengembangkannya
1.        Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD tempat penulis mengajar yaitu SDN 009 Kecamatan Muara  jawa Kabupaten Kutai Kartanegara
2.        Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan dilaksanakan sesuai dengan jadwal pelajaran di SD penulis yaitu tanggal 02 April 2012 sampai dengan 13 April 2012.Penelitian yang penulis laksanakan meliputi 2 siklus,adapun rincian waktunya adalah sebagai berikut:
Siklus I:
a.       Tanggal  02 April 2012 perencanaan perbaikan
b.      Tanggal  03 April 2012 pelaksanaan perbaikan pembelajaran,
c.       Tanggal  04 April 2012 tahap refleksi
       Siklus II:
a.       Tanggal 09 April 2012 perencanaan perbaikan
b.      Tanggal 10 April 2012 pelaksanaan perbaikan pembelajaran
c.       Tanggal 11 April 2012 tahap refleksi
B.  Diskripsi per siklus :
      Dalam pelaksanaan perbaikan ini penulis menggunakan penelitian tindakan kelas yang meliputi 2 siklus.Setiap siklus meliputi kegiatan persiapan, tindakan atau pelaksanaan,pengamatan pengumpulsan data/ instrument dan refleksi.Sebelum melaksanakan siklus I dilaksanakan tahap pendahuluan yang meliputi identifikasi masalah,analisis masalah,rumusan masalah,dan perencanaan perbaikan.Penelitian ini adalah penelitian masalah yang timbul dalam penulisan karangan akan diberikan usaha pemecahan dengan melakukan Pendekatan Bahasa secara utuh.
C.      Langkah – Langkah Rencana Perbaikan
Rincian prosedur tindakan perencanaan perbaikan adalah sebagai berikut :
1.    Perencanaan  Tindakan siklus I
Pada tahap perencanaan siklus I diawali dengan refleksi dan analisis antara penulis dengan teman sejawat yaitu Ibu Sumiati,S.Pd terhadap hasil belajar siswa,mengidentifikasi masalah,menganalisa masalah dan mencari alternatif pemecahan masalah.
Dari hasil di atas penulis selanjutnya melakukan tindakan sebagai berikut:
1.      Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) siklus I,yaitu difokuskan pada perencanaan langkah-langkah perbaikan yang diharapkan dapat mengatasi masalah pembelajaran dan meningkatkan kualitas proses dan  meningkatkan hasil belajar siswa.
2.      Menyiapkan media pembelajaran berupa bulu-buku cerita yasng menarik,gambar seri yang menarik dll.
3.      Menyiapkan Instrumen pengumpulan data yaitu:
o   Lembar observasi yang akan digunakan penulis dan teman sejawat untuk mengamati proses pembelajaran secara keseluruhan.
o   Lembar pendataan siswa yang mengalami kesulitan saat menulis karangan
o   Pedoman Penilaian hasil karangan siswa dan lembar penilaian
o   Menetapkan kriteria keberhasilan kebaikan pembelajaran dalam penelitian ini perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 75% dari siswa mencapai nilai minimal 60.
2.    Pelaksanaan
            Pelaksanaan kegiatan pada tahapan ini adalah  penerapan rencana perbaikan pembelajaran  yang telah dibuat dalam proses belajar mengajar. Pelaksanaan kegiatan itu meliputi :
a.       Menjelaskan secara singkat tentang materi karangan.Dalam hal ini guru melatih kemampuan mendengar para siswanya
b.      Guru mengajak siswa mengamati dan menyebutkan hal – hal apa saja yang menarik dari gambar seri yang telah disediakan guru.Dalam hal ini guru berusaha menggali kemampuan siswa dalam berbicara dengan mengemukakan pikiran, gagasan gagasan yang dimiliki.
c.       Siswa membaca contoh karangan berdasarkan gambar seri yang ada di buku paket Bahasa Indonesia.Dalam hal ini guru melatih siswa rajin membaca untuk menemukan kosakata yang baru yang dapat menambah perbendaharaan katanya,
d.      Siswa menulis karangan sederhana dari gambar seri yang telah disediakan dengan pilihan kata yang menarik dan penggunaan ejaan yang tepat
3.    Pengamatan / pengumpulan data instrumen
1.      Pengamatan
Pengamatan dilakukan secara kolaboratif oleh penulis dan teman sejawat.Pengamatan yang dilakukan adalah aktifitas siswa saat proses pembelajaran.
Pengamatan tersebut meliputi
a.    Proses pembelajaran yang berlangsung
b.    Kesulitan yang dialami siswa selama menulis karangan
c.    Hasil karangan siswa
2.      Instrumen
Instrumen yang digunakan utnuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.    Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) tentang menulis berbagai bentuk pecahan. RPP dibuat untuk memberikan arah pembelajaran dan sebagai acuan dalam menyususun skenario pembelajaran.
b.    Skenario Pembelajaran digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
c.    Alat bantu mengajar / alat peraga yaitu Gambar seri
d.   Lembar Pengamatan proses pembelajaran.
e.    Data siswa yang mengalami kesulitan
f.     Pedoman Penilaian hasil karangan siswa
4.    Refleksi
Dalam tahap refleksi ini penulis bersama teman sejawat melakukan analisa terhadap proses pembelajaran, data siswa yang mengalami kesulitan, hasil karangan siswa.Hasil refleksi ini selanjutnya digunakan sebagai dasar bagi upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II.



Rincian prosedur tindakan perencanaan perbaikan adalah sebagai berikut :
1.    Perencanaan  Tindakan siklus II
Perencanaan siklus II ini didasarkan pada hasil refleksi dan analisis penulis bersama teman sejawat terhadap proses dan hasil belajar siswa pada siklus I.
Dari hasil di atas penulis selanjutnya melakukan tindakan sebagai berikut:
1.         Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) siklus 2, yaitu difokuskan pada perencanaan proses pembelajaran yang lebih efektif dalam memadukan kemampuan berbahasa secara utuh
2.         Menyiapkan media pembelajaran berupa buku-buku yang lebih menarik, gambar seri yang lebih menarik
3.         Menyiapkan Instrumen pengumpulan data yaitu:
o  Lembar observasi yang akan digunakan penulis dan teman sejawat untuk mengamati proses pembelajaran secara keseluruhan.
o  Lembar pendataan siswa yang mengalami kesulitan saat menulis karangan
o  Pedoman Penilaian hasil karangan siswa dan lembar penilaian
o  Menetapkan kriteria keberhasilan kebaikan pembelajaran dalam penelitian ini perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 80% dari siswa mencapai nilai minimal 7,0.
2. Pelaksanaan
            Pelaksanaan kegiatan pada tahapan ini adalah  penerapan rencana perbaikan pembelajaran yang telah dibuat dalam proses belajar mengajar. Pelaksanaan kegiatan itu meliputi :
a.       Pada kegiatan awal guru mengasah kemampuan anak untuk mendengar dengan cara memberikan cerita tentang suatu urutan kejadian semisal, hal-hal yang dialami guru saat berangkat sekolah.Kemudian guru memberikan pertanyaan singkat dari peristiwa  itu
b.      Siswa menulis secara singkat kejadian yang dialaminya sejak  bangun tidur hingga sampai di sekolah.Dengan kegiatan ini guru melatih siswa menulis suatu urutan kejadian.
c.       Siswa membaca contoh  karangan  berdasarkan gambar seri di buku bacaan dengan penekanan memahami pemilihan kata yang menarik , penggunaan ejaan yang tepat, penggunaan huruf kapital yang tepat, dan penggunaan tanda titik yang tepat.
d.      Guru menyiapakan sebuah gambar seri yang telah dibuatnya,lalu mengajak siswa mengamati gambar itu. Kemudian bersama sisa menyebutkan hal-hal apa saja yang ada di gambar itu
e.       Dari hasil pengamatan gambar itu siswa diberi tugas untuk membuat karangan sederhana dari gambar itu
f.       Setelah itu guru memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberi komentar yang bisa memberikan motivasi pada siswa agar selalu rajin membaca,mendengar, berbicara, dan menulis
3. Pengamatan / pengumpulan data instrumen
1.    Pengamatan
Pengamatan dilakukan secara kolaboratif oleh penulis dan teman sejawat.Pengamatan tersebut meliputi :
a.       Proses pembelajaran yang berlangsung
b.      Kesulitan yang dialami siswa selama menulis karangan
c.       Hasil karangan siswa
2.  Instrumen
Instrumen yang digunakan utnuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.         Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) tentang menulis kan berbagai bentuk pecahanRPP dibuat untuk memberikan arah pembelajaran dan sebagai acuan dalam menyususun skenario pembelajaran.
b.        Skenario Pembelajaran digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
c.         Alat bantu mengajar / alat peraga yaitu Gambar seri
d.        Lembar Pengamatan proses pembelajaran.
e.         Data siswa yang mengalami kesulitan
f.         Pedoman Penilaian hasil karangan siswa
Tabel 3.1 Kreteria Penilaian
No
Kesulitan yang dialami
Nilai
1
Pemilihan kata yang tepat
1 - 15
2
Penggunaan ejaan yang tepat
1 - 15
3
Penggunaan huruf kapital yang tepat
1 - 10
4
Pengginaan tanda titik yang  tepat
1- 10
Jumlah rata-rata


4. Refleksi
            Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus 2 penulis dan teman sejawat melakukan refleksi untuk mengetahui kegagalan dan keberhasilan pembelajaran dengan pendekatan whole language ini.Dari pengamatan yang telah dilakukan bisa dikatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Bahasa secara utuh cukup berhasil dalam mengatasi kesaulitan siswa dalam menulis karangan sehingga prestasi mereka pun menjadi lebih baik.Pembelajaran ini dikatakan cukup berhasil karena bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan berdasar gambar seri.Dari 18 siswa ada kurang lebih 9 anak sekitar (50,00 %) yang belum cukup mampu menulis karangan berdasar gambar seri.Selanjutnya inilah tugas guru untuk selalu berusaha memperbaikinya dengan menciptakan pedmbelajaran yang lebioh baik lagi.Refleksi siklus 2 inilah yang menjadi acuan penyusunan laporan perbaikan pembelajaran ini.



















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian per siklus
Setelah melakukan prosedur penelitian di atas peneliti berhasil mendapatkan data-data yang dibutuhkan untuk dapat melakukan tindakan selanjutnya.Pada bab ini akan menguraikan tentang hasil pengolahan dan analisa data berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan.Adapun data-data hasil pengamatan dalam kegiatan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut :
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hasil yang didapat dalam 2 siklus adalah :
1.        Tindakan Siklus 1         
Hasil penelitian dalam perencanaan ini cukup baik guru telah cukup baik dalam mempersiapkan perencanaan untuk menciptakan pembelajaran bahasa secara utuh guna meningkatkan pembelajaran bahasa Indonesia kompetensi menulis karangan berdasarkan gambar seri.
Hal itu terbukti dalam beberapa hal :
1.      Adanya rencana perbaikan pembelajaran yang menggambarkan pembelajaran secara terpadu dan utuh ( Rencana perbaikan pembelajaran terlampir )
2.      Adanya Media pembelajaran yang telah disediakan berupa mediar seri.
3.      Adanya perangkat pembelajaran yang lengkap diantaranya :
o   Lembar observasi yang akan digunakan penulis dan teman sejawat untuk mengamati proses pembelajaran secara keseluruhan.
o   Lembar pengamatan terhadap kesulitan yang mungkin dialami siswa
o   Lembar ini digunakan untuk mengamati hal-hal apa saja yang menjadi kesulitan siswa dalam menulis sebuah karangan
o   Lembar pedoman Penilaian hasil karangan siswa dan lembar penilaian. Lembar ini digunakan untuk dijadikan pedoman hal – hal apa saja yang digunakan dalam penilaian hasil karangan siswa. Lembar ini juga merupakan laporan penilaian hasil belajar siswa.





2.        Pengamatan
Tabel 4.1 Data Hasil Penelitian Pada Tahapan Test
No
Nama siswa
Aspek Penilaian
Jml
Rata
Ket
1
2
3
4
1
Hariyadi
9
9
8
7
33
66
Cukup
2
Akmal
9
6
8
6
29
58
Kurang
3
Deny
9
6
8
6
29
58
Kurang
4
Erlangga.Ns
9
9
8
8
34
68
Cukup
5
Evi yulpiana
9
9
8
7
33
66
Cukup
6
Elsa marsha
8
7
7
6
28
56
Kurang
7
Elva safitri
9
9
8
7
33
66
Cukup
8
Gustiani
14
13
9
9
45
90
Baik
9
Julia.G.N
14
12
9
10
45
90
Baik
10
Kamila n
9
6
8
6
29
58
Kurang
11
M.husaini
8
7
7
6
28
56
Kurang
12
Nursyifa
9
6
8
6
29
58
Kurang
13
Ramadhan
8
8
7
7
30
60
Cukup
14
Syarkani
9
9
8
8
34
68
Cukup
15
Supiana
8
8
7
7
30
60
Cukup
16
Usnur
9
9
8
8
34
68
Cukup
17
Uswatun.N
9
9
8
7
33
66
Cukup
18
Hasmini
9
9
8
8
34
68
Cukup
Jumlah
590
1180


Banyak siswa yang memperoleh nilai baik sebanyak 2 orang ( 11,11% ),yang mendapat nilai cukup sebanyak 9 orang ( 50,00 % ) dan yang mendapatkan nilai kurang sebanyak 7 orang (38,89 %).secara klasikal skor yang diperoleh siswa dominan berada pada kategori cukup. Dari data diatas dapat dilihat hampir 50 % siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis sebuah karangan.Hal yang paling dianggap sulit oleh siswa yaitu pemilihan kata yang tepat.Kebanyakan siswa cenderung sulit untuk mengeluarkan pemikiranya dengan menggunakan kata yang tepat dan saling berkolerasi.Hal itu menjadi tugas guru untuk mengatasinya dengan cara yang sebaik – baiknya
Kegiatan pembelajaran pada siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 02 - 03 April 2012 dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. 
Tabel 4.2 Data Hasil Penelitian dari siklus 1 adalah sebagai berikut
No
Nama siswa
Aspek Penilaian
Jml
Rata
Ket
1
2
3
4
1
Hariyadi
14
13
9
9
45
90
Baik
2
Akmal
9
6
8
6
29
58
Kurang
3
Deny
10
10
9
8
37
74
Cukup
4
Erlangga.Ns
10
10
9
8
37
74
Cukup
5
Evi yulpiana
14
13
9
9
45
90
Baik
6
Elsa marsha
10
9
8
8
35
70
Cukup
7
Elva safitri
10
10
9
8
37
74
Cukup
8
Gustiani
14
13
9
9
45
90
Baik
9
Julia.G.N
14
12
9
10
45
90
Baik
10
Kamila n
8
7
7
6
28
56
Kurang
11
M.husaini
10
10
9
8
37
74
Cukup
12
Nursyifa
10
10
8
8
36
72
Cukup
13
Ramadhan
10
9
8
8
35
70
Cukup
14
Syarkani
10
10
8
8
36
72
Cukup
15
Supiana
10
10
9
8
37
74
Cukup
16
Usnur
10
9
8
8
35
70
Cukup
17
Uswatun.N
10
10
8
8
36
72
Cukup
18
Hasmini
10
9
8
8
35
70
Cukup
Jumlah
670
1340

Rata - rata

74,50
Cukup

Banyak siswa yang memperoleh nilai baik sebanyak 4 orang ( 22,22% ),yang mendapat nilai cukup sebanyak 12 orang ( 66,67% ) dan yang mendapatkan nilai kurang sebanyak 2 orang (11,11%).secara klasikal skor yang diperoleh siswa dominan berada pada kategori cukup.
Tabel.4.3 Pengamatan terhadap pembelajaran yang berlangsung
No
Kegiatan Pembelajaran
Siswa Aktif

Siswa  tidak aktif
1
Penyampaian materi tentang karangan
82 %
18 %
2
Pengamatan terhadap gambar seri
85 %
15 %
3
Kegiatan membaca contoh karangan berdasarkan gambar seri yang ada di buku paket
78 %
22 %
4
Menulis karangan berdasarkan gambar seri yang telah disediakan guru
80 %
20 %
Jumlah rata -rata
81 %
19 %

Dari data keaktifan pembelajaran yang ada diatas dapat dikatakan bahwa pendekatan Bahasa secara utuh cukup mampu untuk membuat pembelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih efektif.Hal itu terbukti dengan pencapaian keaktifan siswa yang mencapai 81 %.Walaupun masih terdapat sekitar 19 % siswa tidak aktif dalam pembelajaran.Kebanyakan dari ketidak aktifan itu dtunjukkan dengan berbicara sendiri dengan teman sebangku,malas dalam mengikuti pelajaran,bermain sendiri.
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa siswa kelas V SDN 009 Kecamatan muara jawa dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri sudah cukup baik.Artinya, siswa sudah mulai dapat mengungapkan pikiran, gagasan yang dimiliki dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri. Kesulitan yang dialami siswa sebelumnya dapat teratasi dengan pembelajaran bahasa secara utuh.Karena dengan pembelajaran bahasa yang utuh siswa terbantu untuk menemukan pemikiran dalam berbahasa yang dimilikinya.Sehingga siswa bisa menulis karangan berdasarkan gambar seri dengan cukup baik.Nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 74 Prosentase ketuntasan belajar mencapai 81%.Hal ini berarti  siswa dari 18 siswa belum tuntas belajar. 
Dari hasil yang didapatkan diatas dapat dilihat rata – rata nilai siswa hanya 74.Meskipun hasil itu dinilai sudah cukup baik guru punya kewajiban untuk meningkatkan nilai tersebut.Guru juga harus berusaha untuk menuntaskan siswa yang berpredikat tidak tuntas.
3.    Refleksi
Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus pertama adaah sebagai berikut (1) kurangnya bimbingan guru kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran, (2) kurangnsya pemanfaatan waktu bagi guru seefisien mungkin terhadap pembelajaran, (3) sebagian siswa belum terbiasa dengan penggunaan pendekatan secara utuh, (4) hasil evaluasi pada siklus pertama mencapai rata-rata 72  dan (5) masih ada anak yang belum dapat menulis karangan berdasarkan gambar seri Namun sebagian siswa sudah dapat menulis karangan berdasarkan gambar seri dengan tepat.
Untuk memperbaiki kekurangan dan mempertahankan prestasi yang telah dicapai pada siklus pertama.Maka pada siklus kedua dibuat perencanaan sebagai berikut:
o    Pertama,guru perlu membuat perencanaan yang lebih efektif dalam memadukan keempat kemampuan berbahasa yang diajarkan secara utuh guru juga harus memotivasi siswa untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
o    Kedua,guru perlu mendiskripsikan waktu secara efisien guna mendapatkan pembelajaran terpadu yang sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia
o    Ketiga,guru harus lebih terampil dan berdedikasi dalam memotivasi siswa sehingga siswa dapat lebih antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
2.    Tindakan Siklus II
Seperti halnya pada siklus pertama,siklus kedua ini terdiri dari perencanaan,pelaksanaan,pengamatan dan refleksi.
1.         Perencanaan
Tindakan dalam perencanaan siklus kedua adalah melengkapi instrumen sesuai dengan refleksi pada siklus pertama
Hasil penelitian siklus 2 dalam perencanaan ini lebih baik daripada siklus Belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada di perbaikan siklus 1, guru dengan lebih baik mempersiapkan rencana perbaikan pembelajaran siklus 2 ini.Hal itu terbukti dalam beberapa hal
a.       Adanya rencana perbaikan pembelajaran yang menggambarkan pembelajaran secara terpadu dan utuh ( Rencana perbaikan pembelajaran terlampir ) yang merupakan perbaikan dari hasil refleksi pada siklus 1.Dengan menekankan pada pengefisienan waktu dalam pembelajaran dan ketrampilan guru dalam memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran
b.      Adanya Media pembelajaran yang telah disediakan berupa media gambar seri yang lebih menarik dengan tema yang menarik. Media ini dibuat agar siswa tertarik dan punya semangat dalam proses pembelajaran
c.       Perangkat pembelajaran dalam siklus 2 ini kurang lebih sama dengan perangkat pembelajaran pada siklus 1
2.         Pengamatan
Kegiatan pembelajaran pada siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 09 -11 April 2012.Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.Adapun proses pembelajaran mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus pertama,sehingga kesalahan maupun kekurangan pada siklus pertama bisa diatasi dalam perbaikan siklus 2 ini.
Pengamatan dilaksanakan pada saat proses pembelajaran mengajar.Hasil Pengamatan dari siklus 2 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4 Data Hasil Penelitian dari siklus II adalah sebagai berikut
No
Nama siswa
Aspek Penilaian
Jml
Rata
Ket
1
2
3
4
1
Hariyadi
14
13
9
9
45
90
Baik
2
Akmal
9
6
8
6
29
58
Kurang
3
Deny
13
11
9
9
42
84
Baik
4
Erlangga.Ns
10
10
9
8
37
74
Cukup
5
Evi yulpiana
14
13
9
9
45
90
Baik
6
Elsa marsha
13
11
9
9
42
84
Baik
7
Elva safitri
10
10
9
8
37
74
Cukup
8
Gustiani
14
13
9
9
45
90
Baik
9
Julia.G.N
14
12
9
10
45
90
Baik
10
Kamila n
10
10
9
8
37
74
Cukup
11
M.husaini
10
10
9
8
37
74
Cukup
12
Nursyifa
10
10
8
8
36
72
Cukup
13
Ramadhan
10
9
8
8
35
70
Cukup
14
Syarkani
10
10
8
8
36
72
Cukup
15
Supiana
10
10
9
8
37
74
Cukup
16
Usnur
10
9
8
8
35
70
Cukup
17
Uswatun.N
10
10
8
8
36
72
Baik
18
Hasmini
13
11
9
9
42
84
Baik
Jumlah
698
1396

Rata - rata

77,56
Tuntas

Banyak siswa yang memperoleh nilai baik sebanyak 7 orang ( 38,89% ),yang mendapat nilai cukup sebanyak 10 orang ( 55,56% ) dan yang mendapatkan nilai kurang sebanyak 1 orang (5,56%).secara klasikal skor yang diperoleh siswa dominan berada pada kategori tuntas.
                    Tabel.4.5 Pengamatan terhadap pembelajaran yang berlangsung
No
Kegiatan Pembelajaran
%
Siswa yang aktif
%
Siswa yang tidak aktif
1
Pembacaan cerita tentang suatu peristiwa yang terjadi secara berurutan
85 %
15 %
2
Kegiatan siswa menulis secara singkat kejadian yang dialaminya sejak bangun tridur hingga sampai di sekolah.
79 %
21 %
3
Kegiatan membaca contoh karangan berdasarkan gambar seri yang ada di buku paket
84 %
16 %
4
Pengamatan terhadap gambar seri yang disediakan guru
87 %
13 %
5
Kegiatan siswa menulis karangan berdasar gambar seri yang telah disaedakan guru
85 %
15 %
Jumlah rata -rata
84 %
16 %

Dari data keaktifan pembelajaran siklus 2 yang ada diatas dapat dikatakan bahwa pendekatan whole language yang diterapkan pada siklus 2 ini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dari pembelajaran siklus 1.Jumlah siswa yang aktif dalam siklus 2 lebih banyak dari siklus 1 yaitu 84 %.
Tabel.4.6 Pengamatan terhadap pembelajaran yang berlangsung
No
Kesulitan yang dialami
% siswa yang mengalami kesulitan
1
Pemilihan kata yang tepat
20 %
2
Penggunaan ejaan yang tepat
16 %
3
Penggunaan huruf kapital yang tepat
18 %
4
Pengginaan tanda titik yang  tepat
21 %
Jumlah rata - rata
19 %

            Dari data diatas dapat dilihat hampir 19 % siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menulis sebuah karangan.Hal itu lebih sedikt dari siklus 1.Selanjutnya menjadi tugas guru untuk terus berusaha agar siswa tersebut perlahan-lahan dapat mengatasi kesulitanya itu.
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa siswa kelas V SDN 009 Kecamatan Muara Jawa Kabupaten Kutai kartanegara dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri sudah cukup baik dan lebih baik dari siklus 1.Kesulitan yang dialami pada siklus 1 dengan kegiatan pembelajaran yang lebih efektif ini telah berkurang.Dengan kebiasaan mereka memadukan kemampuan berbahasa yang utuh.Kemampuan mereka dalam menulis karangan pun menjadi semakin baik.
Nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 74 Prosentase ketuntasan belajar mencapai 88%.Hal ini berarti 1 siswa dari 18 siswa belum tuntas belajar . 
3. Refleksi
Pada akhir pelaksanaan perbaikan siklus 2 ini, penulis melakuan refleksi bersama teman sejawat.Hasil dari refleksi itu adalah sebagai berikut :
a.       Pembelajaran pada siklus 2 lebih baik daripada siklus 1
b.      Kesulitan yang terdapat pada siklus 1 bisa teratasi dari perbaikan siklus 2 yang telah dilakukan
c.       Hasil prestasi belajar siswa pada siklus 2 mengalami peningkatan
d.      Masih ada sedikit kekurangan guru dalam pembelajaran yaitu keefisienan waktu
e.       Guru kurang memperhatikan siswa-siswa dengan kemampuan yang lemah
Pada siklus kedua ini hasil yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran sudah baik.Perlu diperhatikan lagi untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan hasil dan mempertahankan hasil yang sudah diraih siswa agar pada pembelajaran berikutnya menjadi lebih baik lagi.



B. Pembahasan
       Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan diatas penerapan pembelajaran dengan pendekatan bahasa secara utuh dapat meningkatkan pembelajaran yang lebih efektif sehingga hasil pembelajaran yang diperoleh siswa pun semakin baik.Hal itu terbukti dari adanya peningkatan keaktifan siswa,hasil belajar siswa dan tingkat ketuntasan siswa.Keaktifan siswa pada siklus 1 yang mencapai 81 % meningkat menjadi 84 % pada siklus 2,Hasil belajar siswa pada siklus 1 mencapai 74 dapat menigkat menjadi 75 pada siklus 2,dan tingkat ketuntasan pada siklus 1 mencapai 81 % meningkat menjadi 88 % pada siklus 2. Walaupun peningkatan itu tidak terlalu signifikan akan tetapi dengan pembelajaran pendekatan bahasa secara utuh yang lebih baik maka akan didapatkan pula pembelajaran dan hasil yang lebih baik
























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan bahasa secara utuh sangat tepat guna meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri di kelas kelas V SDN 009 Kecamatan Muara jawa, Kabupaten Kutai kartanegara.Hal itu terbukti dengan adanya peningkatan ketuntasan siswa dalam belajar yang semakin baik, yaitu 81 % di siklus 1 meningkat menjadi 88% pada siklus 2. Jika pendekatan whole language bisa diterapkan pada setiap pembelajaran bahasa Indonesia maka akan didapatkan hasil pembelajaran yang lebih memuaskan.

B.     Saran
      Berdasarkan kesimpulan di atas diharapkan:
1.      Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri, pendekatan bahasa secara utuh sangat tepat apabila diterapkan.
2.      Guru SD khusunya guru kelas V dapat memadukan keempat kemampuan berbahasa dengan penyampaian secara utuh dan terkoodinir dengan baik.
3.      Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang maksimal.












DAFTAR PUSTAKA


Suriamiharja Agus,M.Pd.dkk ( 1996 / 1997 ). Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta : Depdikbud
Sabarti Akhadiah,Dr.Prof ( 1996/1997).Menulis. Jakarta : Depdikbud
The Liang Gie (1992). Pengantar Dunia Karang Mengarang. Yogyakarta : Liberty
Tarigan Djago,Drs (1996).Membina Ketrampilan Menulis Paragraf dan Pengembanganny., Bandung : Angkasa



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar